Sifilis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat menular melalui hubungan seksual vaginal, anal, atau oral, melalui kontak langsung dengan luka sifilis, serta dari ibu hamil kepada janin. WHO menyebut sifilis sebagai infeksi bakteri yang dapat dicegah dan disembuhkan, tetapi bila tidak diobati dapat menyebabkan masalah kesehatan serius.

Gejala sifilis dapat berbeda sesuai tahapnya. Pada tahap awal, sering muncul luka kecil yang biasanya tidak nyeri di area kelamin, anus, mulut, atau bibir. Karena tidak sakit, banyak orang tidak menyadarinya. Setelah itu, sifilis dapat menimbulkan ruam kulit, demam, pembesaran kelenjar, nyeri tenggorokan, rambut rontok bercak, atau gejala lain. CDC menjelaskan sifilis berkembang dalam tahap primer, sekunder, laten, dan tersier, dengan tanda dan gejala yang dapat berbeda pada tiap tahap.

Sifilis dapat diobati dengan antibiotik, terutama bila ditemukan lebih awal. Mayo Clinic menyebut penisilin sebagai terapi pilihan untuk semua tahap sifilis, tetapi penggunaan antibiotik harus berdasarkan pemeriksaan dan arahan dokter.   Jangan mengobati sifilis sendiri karena gejalanya bisa hilang sementara, tetapi infeksi tetap berada di tubuh dan dapat merusak organ dalam jangka panjang.


Pengertian Sifilis

Sifilis adalah penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini sering disebut juga sebagai raja singa dalam bahasa awam.

Sifilis termasuk penyakit yang penting dikenali karena gejalanya bisa ringan, hilang timbul, atau tidak disadari. Seseorang dapat merasa sehat, padahal infeksi masih ada di dalam tubuh. Bila tidak diobati, sifilis dapat berkembang bertahun-tahun dan menyerang organ penting seperti otak, saraf, mata, jantung, pembuluh darah, tulang, dan kulit.

Sifilis bukan tanda “kurang bersih” semata. Ini adalah infeksi yang dapat terjadi pada siapa pun yang memiliki paparan seksual berisiko. Yang penting adalah mengenali gejala, melakukan pemeriksaan, mengobati sampai tuntas, dan mencegah penularan ulang.


Cara Sifilis Terjadi di Dalam Tubuh

Sifilis terjadi ketika bakteri Treponema pallidum masuk ke tubuh melalui luka kecil pada kulit atau selaput lendir. Selaput lendir terdapat di area seperti kelamin, anus, rektum, mulut, dan tenggorokan.

Setelah masuk, bakteri dapat berkembang di lokasi awal dan membentuk luka yang disebut chancre. Luka ini sering tidak nyeri, sehingga pasien kadang tidak sadar. Dari lokasi awal, bakteri dapat menyebar melalui darah dan sistem limfe ke berbagai bagian tubuh.

Bila tidak diobati, sifilis dapat masuk ke fase laten. Pada fase ini, pasien mungkin tidak memiliki gejala, tetapi hasil pemeriksaan darah tetap menunjukkan infeksi. Dalam sebagian kasus, sifilis yang tidak diobati dapat berkembang menjadi sifilis tersier yang dapat merusak organ penting. CDC menyebut sifilis sebagai penyakit sistemik yang dibagi berdasarkan tahap klinis untuk menentukan terapi dan tindak lanjut.


Jenis-Jenis atau Tahap Sifilis

Sifilis biasanya dibagi menjadi beberapa tahap. Pembagian ini penting karena gejala, risiko penularan, dan pengobatannya dapat berbeda.

1. Sifilis primer

Sifilis primer adalah tahap awal. Gejala khasnya adalah luka kecil di tempat masuknya bakteri. Luka ini sering:

  • Tidak nyeri.
  • Berbentuk bulat atau oval.
  • Dasarnya bersih atau keras.
  • Muncul di penis, vagina, vulva, anus, rektum, bibir, mulut, atau tenggorokan.
  • Bisa hanya satu luka, tetapi bisa juga lebih dari satu.
  • Dapat sembuh sendiri meskipun tidak diobati.

Luka yang hilang bukan berarti penyakit sembuh. Tanpa pengobatan, infeksi dapat lanjut ke tahap berikutnya.

2. Sifilis sekunder

Sifilis sekunder terjadi ketika bakteri sudah menyebar lebih luas dalam tubuh. Gejalanya dapat berupa:

  • Ruam kulit, termasuk di telapak tangan dan telapak kaki.
  • Bercak atau luka di area mulut, kelamin, atau anus.
  • Demam.
  • Pembesaran kelenjar getah bening.
  • Sakit tenggorokan.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri otot.
  • Lemas.
  • Rambut rontok bercak.
  • Penurunan berat badan.

CDC menyebut manifestasi sifilis sekunder dapat mencakup ruam kulit, lesi mukokutan, dan pembesaran kelenjar getah bening.

3. Sifilis laten

Pada tahap laten, pasien tidak memiliki gejala yang jelas. Namun, bakteri masih ada di tubuh dan pemeriksaan darah tetap dapat positif. Fase laten dapat berlangsung lama.

Sifilis laten dibagi menjadi:

  • Laten dini, biasanya dalam periode awal setelah infeksi.
  • Laten lanjut, bila infeksi sudah berlangsung lebih lama atau waktunya tidak jelas.

4. Sifilis tersier

Sifilis tersier adalah tahap lanjut yang dapat terjadi bila sifilis tidak diobati. Tahap ini dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal. Dampaknya dapat mengenai:

  • Jantung.
  • Pembuluh darah.
  • Otak.
  • Saraf.
  • Tulang.
  • Kulit.
  • Organ lain.

Tidak semua orang dengan sifilis yang tidak diobati akan mengalami sifilis tersier, tetapi risikonya cukup serius sehingga pengobatan dini sangat penting.

5. Neurosifilis, okular sifilis, dan otosifilis

Sifilis dapat menyerang sistem saraf, mata, atau telinga pada berbagai tahap.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Sakit kepala berat.
  • Kaku leher.
  • Gangguan penglihatan.
  • Nyeri mata.
  • Penglihatan kabur atau hilang mendadak.
  • Gangguan pendengaran.
  • Telinga berdenging.
  • Pusing berputar.
  • Kelemahan anggota tubuh.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Perubahan perilaku atau daya ingat.

Kondisi ini memerlukan evaluasi medis segera.

6. Sifilis kongenital

Sifilis kongenital terjadi ketika ibu hamil dengan sifilis menularkan infeksi kepada janin. CDC menjelaskan sifilis kongenital terjadi ketika sifilis berpindah ke bayi selama kehamilan dan dapat menyebabkan masalah kesehatan serius bila tidak ditangani.

Sifilis pada kehamilan dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, bayi lahir prematur, berat lahir rendah, atau bayi lahir dengan infeksi sifilis. WHO juga mencatat sifilis pada kehamilan dapat menyebabkan stillbirth, kematian bayi baru lahir, dan sifilis kongenital.


Penyebab Sifilis

Penyebab sifilis adalah bakteri Treponema pallidum. Penularan paling sering terjadi melalui kontak langsung dengan luka sifilis saat hubungan seksual.

Cara penularan sifilis meliputi:

  • Hubungan seksual vaginal.
  • Hubungan seksual anal.
  • Hubungan seksual oral.
  • Kontak langsung dengan luka sifilis di kelamin, anus, rektum, bibir, atau mulut.
  • Penularan dari ibu hamil kepada janin.
  • Lebih jarang, melalui transfusi darah yang tidak aman.

CDC menjelaskan seseorang dapat tertular sifilis melalui kontak langsung dengan luka sifilis saat seks vaginal, anal, atau oral, dan luka dapat berada di sekitar penis, vagina, anus, rektum, bibir, atau mulut.

Sifilis tidak menular melalui kontak biasa seperti berjabat tangan, berbagi toilet, berbagi alat makan, kolam renang, atau duduk berdekatan.


Faktor Risiko Sifilis

Risiko sifilis meningkat pada orang dengan:

  • Hubungan seksual tanpa kondom.
  • Berganti pasangan seksual.
  • Pasangan seksual yang tidak diketahui status infeksi menular seksualnya.
  • Riwayat infeksi menular seksual sebelumnya.
  • Pasangan seksual memiliki sifilis atau gejala luka kelamin.
  • Hubungan seksual oral, anal, atau vaginal berisiko.
  • Penggunaan narkoba suntik dengan jarum tidak steril.
  • Kehamilan tanpa skrining infeksi menular seksual.
  • Pasangan seksual lebih dari satu.
  • Tidak melakukan pemeriksaan setelah paparan seksual berisiko.

Memiliki faktor risiko bukan berarti pasti terkena sifilis, tetapi pemeriksaan menjadi lebih penting.


Siapa yang Perlu Diperiksa?

Pemeriksaan sifilis dianjurkan bila seseorang mengalami:

  • Luka tidak nyeri di kelamin, anus, bibir, mulut, atau tenggorokan.
  • Ruam kulit yang tidak jelas sebabnya, terutama di telapak tangan atau telapak kaki.
  • Pembesaran kelenjar getah bening setelah hubungan seksual berisiko.
  • Keputihan, nyeri saat buang air kecil, atau luka kelamin bersamaan dengan risiko IMS.
  • Riwayat hubungan seksual tanpa kondom.
  • Pasangan seksual didiagnosis sifilis.
  • Riwayat infeksi menular seksual.
  • Sedang hamil atau merencanakan kehamilan.
  • HIV atau risiko tinggi HIV.
  • Gejala saraf, mata, atau telinga yang mencurigakan.

Pemeriksaan juga penting meskipun tidak ada gejala, karena banyak orang dengan sifilis tidak menyadari infeksinya. WHO menyebut banyak orang dengan sifilis tidak memiliki gejala atau tidak memperhatikannya.


Gejala Sifilis

Gejala sifilis bergantung pada tahap penyakit.

Gejala sifilis primer

  • Luka kecil yang biasanya tidak nyeri.
  • Luka di kelamin, anus, mulut, bibir, atau tenggorokan.
  • Pembesaran kelenjar di sekitar area infeksi.
  • Luka dapat sembuh sendiri dalam beberapa minggu.

Gejala sifilis sekunder

  • Ruam kulit.
  • Ruam di telapak tangan atau telapak kaki.
  • Bercak putih atau luka di mulut/kelamin.
  • Demam.
  • Sakit tenggorokan.
  • Pembesaran kelenjar getah bening.
  • Nyeri otot.
  • Lemas.
  • Sakit kepala.
  • Rambut rontok bercak.
  • Berat badan turun.

Gejala sifilis laten

  • Tidak ada gejala.
  • Pemeriksaan darah tetap dapat menunjukkan infeksi.

Gejala sifilis lanjut

  • Gangguan saraf.
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan pendengaran.
  • Gangguan jantung atau pembuluh darah.
  • Gangguan koordinasi.
  • Nyeri tulang.
  • Benjolan atau luka kronis pada kulit/organ tertentu.
  • Perubahan perilaku atau daya ingat.

Karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain, diagnosis sifilis tidak boleh hanya berdasarkan tampilan luka atau ruam.


Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke IGD?

Segera ke IGD atau fasilitas kesehatan terdekat bila mengalami:

  • Sesak napas.
  • Penurunan kesadaran.
  • Nyeri dada berat.
  • Kejang.
  • Kelemahan satu sisi tubuh.
  • Bicara pelo.
  • Sakit kepala hebat disertai kaku leher.
  • Gangguan penglihatan mendadak.
  • Mata merah nyeri disertai penglihatan kabur.
  • Gangguan pendengaran mendadak.
  • Ruam luas disertai demam tinggi dan kondisi sangat lemah.
  • Luka kelamin berat disertai demam tinggi.
  • Ibu hamil dengan gejala sifilis atau paparan seksual berisiko.
  • Bayi baru lahir tampak sakit, sulit minum, demam, ruam, kuning berat, atau dicurigai sifilis kongenital.

Untuk gejala sifilis biasa tanpa tanda bahaya, pasien tetap perlu periksa, tetapi tidak selalu harus ke IGD. Namun, gejala saraf, mata, telinga, kehamilan, atau kondisi berat perlu evaluasi cepat.


Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Periksa ke dokter, klinik IMS, puskesmas, atau fasilitas kesehatan bila:

  • Ada luka di kelamin, anus, atau mulut setelah hubungan seksual.
  • Ada ruam yang tidak jelas sebabnya setelah paparan seksual berisiko.
  • Pasangan seksual positif sifilis.
  • Pernah berhubungan seksual tanpa kondom.
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
  • Sedang hamil.
  • Ingin skrining IMS.
  • Pernah terkena IMS lain.
  • Hasil tes sifilis reaktif atau positif.
  • Gejala hilang sendiri tetapi sebelumnya ada luka yang mencurigakan.
  • Ingin memastikan sudah sembuh setelah pengobatan.

Jangan menunggu gejala berat. Sifilis lebih mudah diobati bila ditemukan dini.


Diagnosis Sifilis

Diagnosis sifilis dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Dokter akan menanyakan gejala, riwayat hubungan seksual, penggunaan kondom, pasangan seksual, riwayat IMS, kehamilan, serta keluhan saraf, mata, atau telinga.

Pemeriksaan fisik dapat mencakup pemeriksaan kulit, mulut, kelenjar getah bening, kelamin, anus, dan bila diperlukan pemeriksaan saraf atau mata.

Pemeriksaan utama sifilis biasanya menggunakan tes darah. Pada kasus tertentu, dokter dapat mengambil sampel dari luka atau melakukan pemeriksaan cairan otak bila dicurigai neurosifilis. Mayo Clinic menjelaskan sifilis dapat didiagnosis melalui sampel darah, cairan dari luka, atau cairan serebrospinal pada dugaan komplikasi saraf.

Penting: hasil tes sifilis harus ditafsirkan oleh tenaga kesehatan. Ada tes skrining, tes konfirmasi, serta pemeriksaan lanjutan untuk memantau keberhasilan terapi.


Arti Pemeriksaan Sifilis Secara Sederhana

Pemeriksaan

Kegunaan

Wawancara medis

Menilai gejala, tahap penyakit, risiko penularan, pasangan seksual, dan kebutuhan skrining IMS lain.

Pemeriksaan fisik

Mencari luka, ruam, pembesaran kelenjar, kelainan mulut, kelamin, anus, kulit, saraf, mata, atau telinga.

Tes darah nontreponemal, misalnya RPR atau VDRL

Membantu skrining, menilai aktivitas penyakit, dan memantau respons setelah pengobatan.

Tes darah treponemal

Membantu mengonfirmasi bahwa tubuh pernah terpapar bakteri penyebab sifilis.

Pemeriksaan sampel luka

Dapat membantu mendeteksi bakteri pada luka tertentu bila fasilitas tersedia.

Tes HIV

Dianjurkan karena sifilis dan HIV sama-sama berkaitan dengan risiko seksual dan dapat terjadi bersamaan.

Tes IMS lain

Menilai kemungkinan gonore, klamidia, hepatitis B, hepatitis C, atau infeksi lain sesuai risiko.

Tes kehamilan

Penting pada perempuan usia reproduksi bila ada kemungkinan hamil.

Skrining sifilis pada ibu hamil

Mencegah penularan ke janin dan komplikasi kehamilan.

Pemeriksaan cairan otak

Dipertimbangkan bila dicurigai neurosifilis dengan gejala saraf tertentu.

Pemeriksaan mata atau telinga

Diperlukan bila ada gangguan penglihatan, nyeri mata, telinga berdenging, atau gangguan pendengaran.

Pengobatan Sifilis

Sifilis dapat diobati dengan antibiotik. Jenis antibiotik, cara pemberian, dan lamanya terapi bergantung pada tahap sifilis, kondisi pasien, riwayat alergi, kehamilan, serta ada tidaknya keterlibatan saraf, mata, atau telinga.

1. Antibiotik sesuai tahap penyakit

Penisilin adalah terapi utama untuk sifilis. Mayo Clinic menyebut penisilin sebagai pengobatan pilihan pada semua tahap sifilis.   Namun, penggunaan antibiotik harus berdasarkan diagnosis dan resep dokter.

Jangan membeli antibiotik sendiri. Pengobatan yang tidak tepat dapat membuat penyakit tidak tuntas, menunda diagnosis, dan meningkatkan risiko komplikasi.

2. Pengobatan pada ibu hamil

Sifilis pada ibu hamil harus ditangani segera untuk mencegah penularan ke janin. Antibiotik dapat digunakan pada kehamilan, tetapi harus berdasarkan arahan dokter. NHS Inform menyebut antibiotik dapat mengobati sifilis, termasuk selama kehamilan, dengan bentuk suntikan, tablet, atau kapsul sesuai kondisi.

Ibu hamil dengan hasil tes sifilis reaktif tidak boleh menunda kontrol.

3. Pemeriksaan dan pengobatan pasangan seksual

Pasangan seksual perlu diberi tahu, diperiksa, dan diobati bila diperlukan. Ini penting untuk mencegah penularan ulang. Bila pasien diobati tetapi pasangannya belum diperiksa, infeksi dapat terjadi kembali.

4. Hindari hubungan seksual sementara

Pasien sebaiknya menghindari hubungan seksual sampai pengobatan selesai, luka sembuh, dan dokter menyatakan aman. Ini termasuk hubungan vaginal, anal, dan oral.

5. Kontrol ulang setelah terapi

Setelah pengobatan, dokter biasanya meminta kontrol ulang dan pemeriksaan darah berkala untuk memastikan respons terapi. NHS Inform menyebut pasien perlu kembali untuk tes ulang setelah memulai pengobatan.

6. Reaksi setelah pengobatan

Sebagian pasien dapat mengalami reaksi sementara setelah pengobatan, seperti demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, atau badan tidak enak. NHS menyebut sebagian orang dapat mengalami gejala seperti flu dalam 24 jam pertama setelah pengobatan.   Bila gejala berat, sedang hamil, atau muncul sesak/reaksi alergi, segera cari pertolongan medis.


Perawatan di Rumah atau Perubahan Gaya Hidup

Perawatan di rumah tidak dapat menggantikan antibiotik untuk sifilis. Namun, langkah berikut penting untuk mendukung kesembuhan dan mencegah penularan:

  • Ikuti pengobatan sampai tuntas sesuai arahan dokter.
  • Jangan berhubungan seksual sampai dokter menyatakan aman.
  • Beri tahu pasangan seksual agar diperiksa.
  • Gunakan kondom setelah dinyatakan aman berhubungan kembali.
  • Hindari berganti pasangan seksual.
  • Lakukan tes ulang sesuai jadwal.
  • Lakukan skrining IMS lain sesuai anjuran dokter.
  • Jangan mengobati luka kelamin dengan salep sembarangan.
  • Jaga kebersihan area luka tanpa menggosok keras.
  • Hindari alkohol atau zat yang membuat keputusan seksual menjadi berisiko.
  • Bila hamil, kontrol kehamilan secara teratur.

Hal yang Tidak Dianjurkan

Hindari hal-hal berikut:

  • Mengobati sifilis sendiri dengan antibiotik tanpa pemeriksaan.
  • Menggunakan sisa antibiotik lama.
  • Menganggap luka yang hilang berarti sembuh.
  • Berhubungan seksual saat masih dalam masa pengobatan.
  • Tidak memberi tahu pasangan seksual.
  • Menunda pemeriksaan karena malu.
  • Mengoleskan obat keras atau bahan iritatif pada luka kelamin.
  • Menggaruk atau memencet luka.
  • Mengabaikan ruam di telapak tangan dan kaki.
  • Mengabaikan pemeriksaan pada kehamilan.
  • Tidak kontrol ulang setelah terapi.
  • Menggunakan kondom hanya sebagian waktu bila masih ada risiko IMS.

Kondisi Khusus

Sifilis pada Anak

Sifilis pada anak dapat terjadi sebagai sifilis kongenital, yaitu tertular dari ibu selama kehamilan. Bayi dapat tampak normal saat lahir atau menunjukkan gejala kemudian.

Tanda yang perlu diwaspadai pada bayi atau anak antara lain:

  • Ruam.
  • Demam.
  • Sulit minum.
  • Berat badan sulit naik.
  • Hidung tersumbat berat.
  • Kuning.
  • Pembesaran hati atau limpa.
  • Kelainan tulang.
  • Gangguan pendengaran atau penglihatan.

Bayi dari ibu dengan sifilis perlu evaluasi dokter. Pengobatan pada bayi dan anak harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Sifilis pada Ibu Hamil

Sifilis pada ibu hamil adalah kondisi yang sangat penting ditangani. Infeksi dapat menular ke janin dan menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, prematur, berat lahir rendah, atau sifilis kongenital.

Karena itu, skrining sifilis pada kehamilan sangat penting. Ibu hamil yang memiliki hasil tes reaktif perlu segera berkonsultasi. Jangan menunda terapi karena gejala ringan atau tidak ada gejala.

Sifilis pada Lansia

Sifilis juga dapat terjadi pada lansia. Pada usia lanjut, gejala dapat tidak khas dan kadang keliru dianggap sebagai penyakit kulit biasa, gangguan saraf, atau masalah usia. Pemeriksaan tetap diperlukan bila ada riwayat paparan seksual berisiko, luka kelamin, ruam tidak jelas, atau hasil tes reaktif.

Sifilis dan HIV

Sifilis dan HIV dapat terjadi bersamaan karena memiliki faktor risiko penularan yang mirip. Luka sifilis juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Pasien dengan sifilis sebaiknya berdiskusi dengan dokter mengenai tes HIV dan IMS lain.

Sifilis dan Penyakit Menular Seksual Lain

Seseorang yang terkena sifilis juga berisiko terkena gonore, klamidia, hepatitis B, hepatitis C, herpes genital, atau infeksi lain. Karena itu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan IMS yang lebih lengkap.


Komplikasi Sifilis

Bila tidak diobati, sifilis dapat menyebabkan komplikasi serius, antara lain:

  • Kerusakan otak dan saraf.
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan pendengaran.
  • Gangguan jantung dan pembuluh darah.
  • Kelumpuhan atau gangguan koordinasi.
  • Gangguan daya ingat atau perubahan perilaku.
  • Luka atau benjolan kronis pada kulit dan organ.
  • Peningkatan risiko penularan HIV.
  • Keguguran.
  • Bayi lahir mati.
  • Sifilis kongenital.
  • Kematian pada komplikasi berat.

Komplikasi ini dapat dicegah dengan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.


Pencegahan Sifilis

Pencegahan sifilis berfokus pada mengurangi risiko penularan dan mendeteksi infeksi lebih awal.

Langkah pencegahan meliputi:

  • Gunakan kondom dengan benar saat hubungan seksual.
  • Hindari berganti-ganti pasangan seksual.
  • Lakukan pemeriksaan IMS bila memiliki risiko.
  • Jangan berhubungan seksual dengan pasangan yang memiliki luka kelamin sampai diperiksa.
  • Komunikasikan status kesehatan seksual dengan pasangan.
  • Hindari hubungan seksual saat sedang ada luka, ruam, atau gejala IMS.
  • Ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan kehamilan dan skrining sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  • Pasangan seksual pasien sifilis perlu diperiksa.
  • Hindari penggunaan jarum suntik bergantian.
  • Lakukan pengobatan sampai tuntas bila terdiagnosis.

Kondom dapat menurunkan risiko, tetapi tidak menghilangkan risiko sepenuhnya bila luka sifilis berada di area yang tidak tertutup kondom.


Kesalahan yang Sering Dilakukan Pasien

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  1. Mengira luka sifilis yang tidak nyeri bukan masalah.
  2. Menganggap luka yang sembuh sendiri berarti penyakit hilang.
  3. Membeli antibiotik sendiri tanpa pemeriksaan.
  4. Tidak melakukan tes darah karena malu.
  5. Tidak memberi tahu pasangan seksual.
  6. Tetap berhubungan seksual selama pengobatan.
  7. Tidak kontrol ulang setelah terapi.
  8. Mengabaikan ruam di telapak tangan dan kaki.
  9. Tidak melakukan skrining IMS lain.
  10. Ibu hamil menunda pemeriksaan karena tidak ada keluhan.
  11. Menggunakan salep sembarangan pada luka kelamin.
  12. Menganggap sifilis hanya terjadi pada kelompok tertentu.

Mitos dan Fakta Sifilis

Mitos

Fakta

Sifilis hanya menular lewat hubungan vaginal.

Sifilis juga dapat menular lewat seks anal dan oral melalui kontak dengan luka.

Kalau lukanya tidak sakit, berarti bukan penyakit serius.

Luka sifilis sering tidak nyeri, tetapi tetap dapat menular dan berbahaya bila tidak diobati.

Luka yang hilang berarti sifilis sembuh.

Gejala dapat hilang, tetapi bakteri masih bisa tetap ada di tubuh.

Sifilis tidak bisa disembuhkan.

Sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotik yang tepat, terutama bila ditemukan dini.

Antibiotik apa saja bisa mengobati sifilis.

Tidak. Jenis antibiotik dan lamanya terapi harus sesuai tahap penyakit dan kondisi pasien.

Kondom membuat risiko sifilis nol.

Kondom menurunkan risiko, tetapi tidak melindungi area luka yang tidak tertutup kondom.

Sifilis tidak berbahaya bila tidak ada gejala.

Sifilis laten tetap dapat berkembang dan menyebabkan komplikasi jangka panjang.

Sifilis pada ibu hamil tidak memengaruhi bayi bila ibu tampak sehat.

Sifilis dapat menular ke janin meskipun ibu tidak memiliki gejala jelas.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Sifilis

1. Apakah sifilis bisa sembuh?

Ya. Sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotik yang tepat, terutama bila ditemukan dan diobati lebih awal. Namun, kerusakan organ yang sudah terjadi akibat sifilis lanjut tidak selalu bisa pulih sepenuhnya.

2. Apa gejala awal sifilis?

Gejala awal yang khas adalah luka kecil yang sering tidak nyeri di area kelamin, anus, mulut, atau bibir. Luka ini dapat sembuh sendiri, tetapi infeksi tetap bisa berlanjut bila tidak diobati.

3. Apakah sifilis selalu menimbulkan gejala?

Tidak. Banyak orang tidak menyadari gejalanya. Pada fase laten, sifilis dapat tidak menimbulkan keluhan sama sekali, tetapi pemeriksaan darah tetap dapat positif.

4. Apakah sifilis menular melalui toilet atau alat makan?

Tidak. Sifilis tidak menular melalui toilet, alat makan, kolam renang, berjabat tangan, atau duduk berdekatan. Penularan terutama melalui kontak langsung dengan luka sifilis saat aktivitas seksual dan dari ibu hamil ke janin.

5. Apakah pasangan saya harus diperiksa juga?

Ya. Pasangan seksual perlu diperiksa dan diobati bila diperlukan. Tanpa pemeriksaan pasangan, infeksi dapat menular kembali setelah pasien selesai terapi.

6. Apakah boleh berhubungan seksual saat pengobatan?

Sebaiknya tidak. Hindari hubungan seksual sampai pengobatan selesai, luka sembuh, dan dokter menyatakan aman. Ini penting untuk mencegah penularan.

7. Apakah sifilis berbahaya pada ibu hamil?

Ya. Sifilis pada kehamilan dapat menular ke janin dan menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, prematur, atau sifilis kongenital. Karena itu, skrining dan pengobatan pada ibu hamil sangat penting.

8. Apakah hasil tes sifilis positif berarti baru tertular?

Belum tentu. Beberapa jenis tes dapat tetap positif lama setelah infeksi. Dokter perlu menilai jenis tes, angka titer, riwayat pengobatan, gejala, dan risiko terbaru.

9. Apakah sifilis bisa kambuh setelah sembuh?

Sifilis yang diobati dengan tepat dapat sembuh. Namun, seseorang bisa tertular kembali bila terpapar lagi melalui hubungan seksual berisiko.

10. Apakah sifilis sama dengan gonore?

Tidak. Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, sedangkan gonore disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Gejala, pemeriksaan, dan pengobatannya berbeda.


Referensi Medis Tepercaya

  1. WHO. Syphilis.
    https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/syphilis
  2. WHO. Sexually transmitted infections (STIs).
    https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sexually-transmitted-infections-(stis)
  3. CDC. About Syphilis.
    https://www.cdc.gov/syphilis/about/index.html
  4. CDC. Syphilis – STI Treatment Guidelines.
    https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/syphilis.htm
  5. CDC. About Congenital Syphilis.
    https://www.cdc.gov/syphilis/about/about-congenital-syphilis.html
  6. Mayo Clinic. Syphilis: Symptoms and causes.
    https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/syphilis/symptoms-causes/syc-20351756
  7. Mayo Clinic. Syphilis: Diagnosis and treatment.
    https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/syphilis/diagnosis-treatment/drc-20351762
  8. NHS. Syphilis.
    https://www.nhs.uk/conditions/syphilis/
  9. NHS Inform. Syphilis.
    https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/sexual-and-reproductive/syphilis/
  10. BASHH. UK Guidelines for the Management of Syphilis 2024.
    https://www.bashh.org/_userfiles/pages/files/syphilis_2024.pdf

Ditulis oleh:
Tim Redaksi WebDokter

Ditinjau oleh:
dr. Willi Fragcana Putra

Terakhir diperbarui:
2 Maret 2026

Catatan Medis:
Artikel ini bertujuan untuk edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Pemeriksaan, diagnosis, dan pengobatan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Jika Anda mengalami gejala berat, kondisi memburuk, atau tanda bahaya seperti sesak napas, penurunan kesadaran, nyeri dada berat, perdarahan, kejang, lemas berat, atau tanda kegawatan lain, segera cari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.

 

About WebDokter ID

Web Dokter ID email: webdokterid@gmail.com

View all posts by WebDokter ID →