Keputihan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan

Keputihan adalah keluarnya cairan dari vagina. Pada banyak perempuan, keputihan merupakan hal normal karena vagina memiliki mekanisme alami untuk menjaga kelembapan dan kebersihan. Keputihan normal biasanya berwarna bening atau putih, tidak berbau menyengat, dan tidak disertai nyeri, gatal, atau panas saat buang air kecil. NHS Inform menjelaskan bahwa keputihan umumnya tidak perlu dikhawatirkan bila tidak berbau tidak sedap, berwarna bening atau putih, dan dapat berubah teksturnya sesuai siklus tubuh.

Keputihan perlu diwaspadai bila berubah warna menjadi kuning, hijau, abu-abu, berbusa, menggumpal seperti keju, berbau amis atau menyengat, disertai gatal, nyeri panggul, perdarahan di luar haid, nyeri saat berhubungan seksual, atau nyeri saat buang air kecil. Mayo Clinic menyarankan pemeriksaan ke tenaga kesehatan bila keputihan berwarna kehijauan, kekuningan, tebal seperti keju, berbau kuat, disertai gatal, iritasi, atau perdarahan di luar haid.

Penyebab keputihan tidak normal dapat berupa infeksi jamur, bacterial vaginosis, trikomoniasis, klamidia, gonore, iritasi bahan kimia, perubahan hormon, hingga kondisi lain yang lebih jarang. Pengobatan harus disesuaikan dengan penyebabnya. Jangan langsung membeli antibiotik, antijamur, atau obat keras tanpa pemeriksaan karena salah obat dapat membuat keluhan berulang, menutupi penyakit menular seksual, atau memperburuk iritasi.


Pengertian Keputihan

Keputihan adalah keluarnya cairan dari vagina. Dalam istilah medis, keluhan ini sering disebut vaginal discharge. Keputihan dapat bersifat normal atau tidak normal.

Keputihan normal adalah bagian dari fungsi alami tubuh. Cairan ini membantu membersihkan vagina, menjaga kelembapan, dan mempertahankan keseimbangan bakteri baik. Jumlah dan tekstur keputihan dapat berubah sesuai siklus menstruasi, masa subur, kehamilan, penggunaan kontrasepsi hormonal, aktivitas seksual, atau perubahan hormon.

Keputihan tidak normal terjadi bila cairan berubah dari pola biasanya, terutama bila disertai bau menyengat, gatal, nyeri, warna tidak biasa, perdarahan, atau keluhan lain. MedlinePlus menyebut keputihan dan gatal pada vagina dapat disebabkan oleh infeksi menular seksual, infeksi jamur, bacterial vaginosis, menopause, iritasi bahan kimia, atau benda asing.


Cara Keputihan Terjadi di Dalam Tubuh

Vagina memiliki ekosistem alami yang terdiri dari sel-sel dinding vagina, lendir serviks, hormon estrogen, tingkat keasaman atau pH, dan bakteri baik. Salah satu bakteri baik yang penting adalah Lactobacillus, yang membantu menjaga lingkungan vagina tetap asam sehingga kuman tertentu tidak mudah tumbuh berlebihan.

Keputihan normal terjadi ketika tubuh mengeluarkan cairan untuk membersihkan sel mati, lendir, dan bakteri dari vagina. Cairan ini dapat meningkat saat masa subur, menjelang haid, saat hamil, atau saat mendapat rangsangan seksual.

Keputihan tidak normal terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Misalnya, bakteri tertentu tumbuh berlebihan pada bacterial vaginosis, jamur Candida berkembang berlebihan pada infeksi jamur, atau terjadi infeksi menular seksual seperti trikomoniasis, klamidia, dan gonore. Perubahan pH, penggunaan sabun pewangi, douching, antibiotik tertentu, diabetes yang tidak terkontrol, dan perubahan hormon juga dapat mengganggu keseimbangan vagina.


Jenis-Jenis atau Bentuk Keputihan

1. Keputihan normal atau fisiologis

Keputihan normal biasanya:

  • Bening, putih, atau sedikit keruh.
  • Tidak berbau menyengat.
  • Tidak disertai gatal, nyeri, panas, atau luka.
  • Jumlahnya dapat berubah sesuai siklus haid.
  • Dapat lebih banyak saat masa subur, hamil, menggunakan kontrasepsi hormonal, atau saat aktif secara seksual.

NHS menjelaskan bahwa perubahan bau, warna, atau tekstur keputihan dapat menjadi tanda infeksi, tetapi keputihan itu sendiri tidak selalu berarti penyakit.

2. Keputihan tidak normal atau patologis

Keputihan tidak normal biasanya memiliki salah satu atau beberapa ciri berikut:

  • Bau amis, busuk, atau menyengat.
  • Warna kuning, hijau, abu-abu, atau bercampur darah.
  • Tekstur berbusa, sangat kental, atau menggumpal seperti keju.
  • Disertai gatal, nyeri, kemerahan, bengkak, atau iritasi.
  • Disertai nyeri panggul.
  • Disertai nyeri saat buang air kecil atau saat berhubungan seksual.
  • Muncul setelah hubungan seksual berisiko.
  • Terjadi pada anak atau setelah menopause.

3. Keputihan akibat infeksi jamur

Biasanya ditandai keputihan putih kental atau menggumpal seperti susu basi/keju, disertai gatal, kemerahan, dan rasa perih. Namun, tidak semua keputihan putih berarti jamur, sehingga diagnosis sebaiknya tetap dipastikan.

4. Keputihan akibat bacterial vaginosis

Sering ditandai keputihan encer berwarna putih keabu-abuan dengan bau amis, terutama setelah berhubungan seksual. MedlinePlus menjelaskan bacterial vaginosis terjadi ketika bakteri normal di vagina tumbuh berlebihan dan dapat menyebabkan cairan abu-abu serta bau amis.

5. Keputihan akibat infeksi menular seksual

Trikomoniasis dapat menyebabkan keputihan kuning kehijauan, berbusa, berbau, dan disertai gatal atau nyeri. Klamidia dan gonore dapat menyebabkan keputihan tidak normal, nyeri panggul, nyeri saat buang air kecil, atau perdarahan di luar haid. NHS mencantumkan keputihan hijau, kuning, atau berbusa sebagai kemungkinan trikomoniasis, sedangkan keputihan dengan nyeri panggul atau perdarahan dapat berkaitan dengan klamidia atau gonore.


Penyebab Keputihan

Penyebab keputihan dapat dibagi menjadi penyebab normal dan penyebab tidak normal.

1. Perubahan hormon normal

Keputihan dapat meningkat saat:

  • Masa subur.
  • Menjelang haid.
  • Kehamilan.
  • Penggunaan pil KB atau kontrasepsi hormonal.
  • Rangsangan seksual.

Pada kondisi ini, cairan biasanya tidak berbau menyengat dan tidak disertai gatal atau nyeri.

2. Infeksi jamur vagina

Infeksi jamur sering disebabkan oleh pertumbuhan berlebih jamur Candida. Keluhan dapat berupa gatal hebat, kemerahan, perih, dan keputihan kental menggumpal. Risiko dapat meningkat pada diabetes yang tidak terkontrol, penggunaan antibiotik tertentu, kehamilan, atau daya tahan tubuh menurun.

3. Bacterial vaginosis

Bacterial vaginosis terjadi akibat ketidakseimbangan bakteri di vagina. Keluhan khasnya adalah bau amis dan cairan keabu-abuan. Kondisi ini bukan selalu penyakit menular seksual, tetapi lebih sering terjadi pada perempuan yang aktif secara seksual.

4. Trikomoniasis

Trikomoniasis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan parasit. Keluhan dapat berupa keputihan kuning kehijauan, berbusa, berbau, gatal, nyeri saat buang air kecil, atau nyeri saat berhubungan seksual.

5. Klamidia dan gonore

Klamidia dan gonore adalah infeksi menular seksual yang dapat menyebabkan keputihan tidak normal, nyeri panggul, nyeri saat buang air kecil, perdarahan setelah berhubungan seksual, atau perdarahan di luar haid. Kadang infeksi ini tidak menimbulkan gejala jelas.

6. Iritasi bahan kimia

Sabun pewangi, cairan pembersih vagina, douching, parfum area kewanitaan, pembalut berpewangi, detergen tertentu, atau pelumas tertentu dapat mengiritasi vagina dan vulva.

7. Benda asing

Pada anak atau remaja, benda asing seperti tisu yang tertinggal dapat menyebabkan keputihan berbau, iritasi, atau perdarahan. Kondisi ini perlu pemeriksaan tenaga kesehatan.

8. Menopause atau kekurangan estrogen

Setelah menopause, kadar estrogen menurun sehingga dinding vagina dapat menjadi lebih kering, tipis, mudah iritasi, dan rentan infeksi. Mayo Clinic mencantumkan vaginal atrophy atau genitourinary syndrome of menopause sebagai salah satu penyebab perubahan keputihan.

9. Kondisi yang lebih jarang

Keputihan yang menetap, berbau sangat tidak sedap, disertai perdarahan tidak normal, nyeri panggul, atau penurunan berat badan perlu dievaluasi untuk menyingkirkan kondisi serius seperti penyakit radang panggul atau keganasan. Mayo Clinic mencatat perubahan keputihan jarang menjadi tanda kanker, tetapi kondisi seperti kanker serviks, kanker vagina, dan fistula vagina termasuk penyebab yang perlu dipertimbangkan pada kasus tertentu.


Faktor Risiko Keputihan Tidak Normal

Risiko keputihan tidak normal dapat meningkat pada kondisi berikut:

  • Aktivitas seksual tanpa kondom.
  • Berganti pasangan seksual.
  • Riwayat infeksi menular seksual.
  • Douching atau mencuci bagian dalam vagina.
  • Penggunaan sabun pewangi pada area kewanitaan.
  • Penggunaan antibiotik tertentu.
  • Diabetes yang tidak terkontrol.
  • Kehamilan.
  • Daya tahan tubuh menurun.
  • Penggunaan pakaian dalam terlalu ketat atau lembap.
  • Kebersihan area genital yang kurang tepat.
  • Menopause.
  • Tidak melakukan pemeriksaan bila keluhan berulang.

Siapa yang Perlu Diperiksa?

Pemeriksaan dianjurkan bila keputihan:

  • Baru pertama kali muncul dengan bau, warna, atau tekstur yang tidak biasa.
  • Berulang atau tidak membaik.
  • Disertai gatal, nyeri, panas, kemerahan, atau bengkak.
  • Berwarna kuning, hijau, abu-abu, atau bercampur darah.
  • Berbau amis atau menyengat.
  • Disertai nyeri perut bawah atau nyeri panggul.
  • Disertai demam.
  • Disertai nyeri saat buang air kecil.
  • Disertai nyeri saat berhubungan seksual.
  • Terjadi saat hamil.
  • Terjadi pada anak.
  • Terjadi setelah menopause.
  • Muncul setelah hubungan seksual berisiko.
  • Pasangan seksual juga mengalami keluhan.

Pemeriksaan penting karena keputihan akibat jamur, bacterial vaginosis, dan infeksi menular seksual dapat terlihat mirip, tetapi pengobatannya berbeda.


Gejala Keputihan

Gejala keputihan bergantung pada penyebabnya. Keluhan yang dapat muncul antara lain:

  • Cairan vagina lebih banyak dari biasanya.
  • Perubahan warna menjadi kuning, hijau, abu-abu, cokelat, atau bercampur darah.
  • Bau amis, busuk, atau menyengat.
  • Tekstur cairan kental, menggumpal, berbusa, atau sangat encer.
  • Gatal pada vagina atau vulva.
  • Rasa panas atau perih.
  • Kemerahan atau bengkak pada area kewanitaan.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Nyeri perut bawah atau panggul.
  • Perdarahan di luar jadwal haid.
  • Demam atau badan terasa sakit pada infeksi yang lebih berat.

Keputihan tidak boleh dinilai hanya dari warna. Pola gejala, bau, gatal, nyeri, riwayat seksual, kehamilan, dan hasil pemeriksaan semuanya perlu dipertimbangkan.


Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke IGD?

Segera ke IGD atau fasilitas kesehatan terdekat bila keputihan disertai:

  • Nyeri perut bawah atau nyeri panggul berat.
  • Demam tinggi atau menggigil.
  • Mual muntah berat.
  • Pingsan atau tampak sangat lemah.
  • Perdarahan vagina banyak di luar haid.
  • Keputihan berbau busuk disertai nyeri hebat.
  • Nyeri hebat setelah tindakan medis atau persalinan.
  • Kehamilan dengan perdarahan, nyeri perut, demam, atau kontraksi.
  • Luka, lepuh, atau borok kelamin yang sangat nyeri disertai demam.
  • Dugaan kekerasan seksual.
  • Anak mengalami keputihan berdarah, nyeri, atau dicurigai mengalami trauma/kekerasan.

Tanda bahaya ini perlu evaluasi cepat karena dapat berkaitan dengan infeksi panggul, kehamilan bermasalah, infeksi berat, perdarahan, atau kondisi gawat lain.


Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Periksa ke dokter, bidan, atau fasilitas kesehatan bila:

  • Keputihan berubah dari biasanya.
  • Bau menjadi amis, busuk, atau menyengat.
  • Cairan berwarna kuning, hijau, abu-abu, atau menggumpal.
  • Gatal atau perih tidak membaik.
  • Ada nyeri saat buang air kecil.
  • Ada nyeri saat berhubungan seksual.
  • Ada perdarahan di luar haid.
  • Keluhan sering kambuh.
  • Sedang hamil.
  • Memiliki diabetes atau daya tahan tubuh rendah.
  • Pasangan seksual memiliki keluhan.
  • Ada riwayat hubungan seksual tanpa kondom.

Mayo Clinic menyarankan kunjungan ke tenaga kesehatan bila keputihan berwarna kehijauan, kekuningan, tebal seperti keju, berbau kuat, disertai gatal/iritasi, atau perdarahan di luar haid.


Diagnosis Keputihan

Diagnosis keputihan dimulai dari wawancara medis dan pemeriksaan. Dokter dapat menanyakan:

  • Warna, bau, tekstur, dan jumlah cairan.
  • Sejak kapan keluhan muncul.
  • Apakah ada gatal, nyeri, perih, atau panas saat buang air kecil.
  • Apakah ada nyeri panggul atau demam.
  • Siklus haid dan kemungkinan hamil.
  • Riwayat hubungan seksual dan penggunaan kondom.
  • Riwayat infeksi sebelumnya.
  • Obat yang sedang digunakan.
  • Riwayat diabetes atau gangguan imun.
  • Kebiasaan membersihkan area kewanitaan.

Pemeriksaan fisik dapat mencakup pemeriksaan area luar genital dan, bila diperlukan serta sesuai kondisi pasien, pemeriksaan panggul. Dokter mungkin mengambil sampel cairan vagina untuk diperiksa. FamilyDoctor menjelaskan bahwa diagnosis keputihan dapat melibatkan pertanyaan gejala, pemeriksaan panggul, serta pengambilan sampel cairan untuk pemeriksaan laboratorium.

Pada fasilitas tertentu, pemeriksaan dapat meliputi pH vagina, mikroskop, tes whiff, kultur, atau pemeriksaan infeksi menular seksual.

Arti Pemeriksaan Keputihan Secara Sederhana

Pemeriksaan

Kegunaan

Wawancara medis

Menilai pola keputihan, gejala penyerta, faktor risiko, kemungkinan hamil, dan riwayat seksual.

Pemeriksaan area genital luar

Melihat tanda kemerahan, bengkak, luka, iritasi, lepuh, atau kelainan kulit.

Pemeriksaan panggul

Menilai vagina, serviks, nyeri panggul, dan sumber cairan bila diperlukan.

Pemeriksaan pH vagina

Membantu membedakan kemungkinan bacterial vaginosis, trikomoniasis, atau penyebab lain.

Pemeriksaan mikroskop cairan vagina

Melihat tanda jamur, bakteri tertentu, atau parasit.

Tes whiff

Menilai bau amis setelah sampel diberi zat tertentu; dapat mendukung diagnosis bacterial vaginosis.

Kultur atau pemeriksaan laboratorium

Membantu memastikan jenis kuman bila keluhan berat, berulang, atau tidak membaik.

Tes infeksi menular seksual

Mendeteksi kemungkinan klamidia, gonore, trikomoniasis, atau infeksi lain.

Tes kehamilan

Dipertimbangkan bila ada kemungkinan hamil, terlambat haid, nyeri perut, atau perdarahan.

Pemeriksaan gula darah

Dipertimbangkan pada keputihan berulang, terutama bila dicurigai diabetes.

Pap smear atau pemeriksaan serviks

Dipertimbangkan sesuai usia, jadwal skrining, atau bila ada perdarahan/kelainan serviks.


 

Pengobatan Keputihan

Pengobatan keputihan tergantung penyebabnya. Tidak semua keputihan memerlukan obat.

1. Keputihan normal

Keputihan normal tidak memerlukan pengobatan. Yang diperlukan adalah menjaga kebersihan area luar genital, menghindari iritasi, dan mengenali perubahan yang tidak biasa.

2. Infeksi jamur

Infeksi jamur dapat diobati dengan obat antijamur. Bentuk obat dapat berupa krim, tablet vagina, atau obat minum sesuai penilaian dokter. Obat antijamur untuk ibu hamil, anak, pasien dengan penyakit tertentu, atau keluhan berulang harus digunakan sesuai arahan dokter.

3. Bacterial vaginosis

Bacterial vaginosis biasanya memerlukan antibiotik tertentu. Antibiotik harus digunakan sesuai resep dokter dan tidak boleh dihentikan sembarangan. Pengobatan yang tidak tepat dapat menyebabkan keluhan berulang.

4. Trikomoniasis

Trikomoniasis memerlukan obat khusus dan pasangan seksual biasanya perlu dievaluasi serta diobati agar tidak terjadi infeksi ulang. Hindari hubungan seksual sampai pengobatan selesai dan dokter menyatakan aman.

5. Klamidia dan gonore

Klamidia dan gonore memerlukan antibiotik sesuai pedoman medis. Pasangan seksual perlu diperiksa dan diobati bila diperlukan. Jangan membeli antibiotik sendiri karena pemilihan obat harus sesuai diagnosis dan mempertimbangkan resistensi antibiotik.

6. Iritasi atau alergi

Bila disebabkan iritasi bahan kimia, penanganan utamanya adalah menghentikan pemicu seperti sabun pewangi, douching, parfum vagina, pembalut berpewangi, atau produk pembersih yang keras.

7. Keputihan berulang

Keputihan yang sering kambuh perlu evaluasi penyebab. Dokter dapat menilai kemungkinan diabetes, infeksi berulang, kebiasaan douching, perubahan hormon, infeksi pasangan, atau diagnosis lain.


Perawatan di Rumah atau Perubahan Gaya Hidup

Langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan vagina:

  • Bersihkan area luar vagina dengan air bersih.
  • Keringkan area genital setelah mandi atau buang air.
  • Gunakan pakaian dalam yang bersih dan menyerap keringat.
  • Ganti pakaian dalam bila basah atau lembap.
  • Hindari celana terlalu ketat dalam waktu lama.
  • Hindari sabun pewangi, parfum vagina, dan douching.
  • Basuh dari arah depan ke belakang setelah buang air.
  • Gunakan kondom untuk mengurangi risiko infeksi menular seksual.
  • Jangan berganti pasangan seksual.
  • Kontrol gula darah bila memiliki diabetes.
  • Periksa bila keluhan tidak membaik atau sering kambuh.

Perawatan rumah tidak menggantikan pemeriksaan bila keputihan disertai bau menyengat, gatal berat, nyeri, perdarahan, demam, atau nyeri panggul.


Hal yang Tidak Dianjurkan

Hindari hal-hal berikut:

  • Membersihkan bagian dalam vagina dengan cairan pembersih atau douching.
  • Menggunakan sabun pewangi pada area kewanitaan.
  • Menggunakan parfum atau bedak pada vagina.
  • Membeli antibiotik sendiri.
  • Menggunakan obat antijamur berulang tanpa diagnosis.
  • Menggunakan ramuan, daun, atau bahan tradisional yang dimasukkan ke vagina.
  • Berhubungan seksual saat keluhan infeksi masih aktif tanpa pemeriksaan.
  • Mengabaikan pasangan seksual yang juga bergejala.
  • Menganggap semua keputihan pasti jamur.
  • Menganggap keputihan berbau amis sebagai hal normal.
  • Menunda pemeriksaan bila sedang hamil atau setelah menopause.

Kondisi Khusus

Keputihan pada Anak

Keputihan pada anak tidak boleh dianggap sepele. Penyebabnya dapat berupa kebersihan yang kurang tepat, iritasi sabun, infeksi, cacing, benda asing, atau kondisi lain. Bila keputihan pada anak berbau, berdarah, disertai nyeri, gatal berat, luka, atau perubahan perilaku, anak perlu diperiksa tenaga kesehatan.

Pada anak, jangan memasukkan obat atau ramuan ke vagina tanpa arahan dokter.

Keputihan pada Ibu Hamil

Keputihan dapat meningkat saat hamil karena perubahan hormon. Namun, ibu hamil perlu periksa bila keputihan berbau, gatal, nyeri, berubah warna, disertai perdarahan, nyeri perut, demam, atau cairan keluar banyak seperti ketuban.

Penggunaan obat pada ibu hamil harus sesuai arahan dokter karena keamanan obat bergantung pada usia kehamilan, jenis obat, dan kondisi ibu.

Keputihan pada Lansia atau Setelah Menopause

Keputihan setelah menopause perlu diperhatikan, terutama bila disertai perdarahan, bau tidak sedap, nyeri, gatal menetap, atau nyeri saat berhubungan seksual. Setelah menopause, penurunan estrogen dapat menyebabkan vagina lebih kering dan mudah iritasi, tetapi perdarahan setelah menopause tetap perlu diperiksa.

Keputihan dan Diabetes

Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko infeksi jamur berulang. Bila keputihan sering kambuh, terutama disertai sering haus, sering buang air kecil, berat badan turun, atau luka sulit sembuh, pemeriksaan gula darah dapat dipertimbangkan.

Keputihan dan Penyakit Menular Seksual

Keputihan yang muncul setelah hubungan seksual berisiko, berganti pasangan, atau tanpa kondom perlu dievaluasi. Beberapa infeksi menular seksual dapat tidak bergejala jelas, tetapi tetap dapat menular dan menimbulkan komplikasi bila tidak diobati.


Komplikasi Keputihan

Keputihan normal tidak menyebabkan komplikasi. Namun, keputihan tidak normal yang tidak ditangani sesuai penyebab dapat menyebabkan:

  • Infeksi berulang.
  • Iritasi dan luka akibat garukan.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Gangguan kualitas hidup.
  • Penyakit radang panggul bila infeksi menyebar ke organ reproduksi bagian atas.
  • Risiko gangguan kesuburan pada infeksi tertentu yang tidak diobati.
  • Risiko komplikasi kehamilan pada infeksi tertentu.
  • Penularan infeksi kepada pasangan seksual.
  • Keterlambatan diagnosis penyakit yang lebih serius.

Komplikasi dapat dicegah dengan pemeriksaan yang tepat, pengobatan sesuai penyebab, dan menghindari pengobatan sembarangan.


Pencegahan Keputihan Tidak Normal

Keputihan tidak normal dapat dikurangi risikonya dengan:

  • Menjaga kebersihan area genital luar.
  • Menghindari douching.
  • Menghindari sabun, pembalut, atau produk kewanitaan berpewangi.
  • Menggunakan pakaian dalam yang menyerap keringat.
  • Mengganti pakaian dalam secara teratur.
  • Mengeringkan area genital setelah mandi atau buang air.
  • Menggunakan kondom bila berisiko.
  • Tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  • Melakukan pemeriksaan bila pasangan memiliki gejala infeksi.
  • Mengontrol diabetes.
  • Menghindari penggunaan antibiotik tanpa resep.
  • Melakukan skrining serviks sesuai anjuran usia dan kondisi.
  • Segera periksa bila keluhan berubah dari biasanya.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Pasien

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  1. Menganggap semua keputihan sebagai penyakit.
  2. Menganggap semua keputihan tidak normal sebagai jamur.
  3. Membeli antibiotik sendiri tanpa pemeriksaan.
  4. Menggunakan obat antijamur berulang tanpa diagnosis.
  5. Membersihkan bagian dalam vagina dengan douching.
  6. Menggunakan sabun pewangi karena merasa “lebih bersih”.
  7. Menunda pemeriksaan karena malu.
  8. Tidak memeriksakan pasangan seksual bila dicurigai infeksi menular seksual.
  9. Mengabaikan keputihan setelah menopause.
  10. Menganggap keputihan saat hamil selalu normal.
  11. Memasukkan ramuan atau bahan tradisional ke vagina.
  12. Tidak menyelesaikan pengobatan sesuai arahan dokter.

Mitos dan Fakta Keputihan

Mitos

Fakta

Semua keputihan adalah penyakit.

Keputihan dapat normal, terutama bila bening/putih, tidak berbau menyengat, dan tidak disertai gatal atau nyeri.

Keputihan pasti karena kurang bersih.

Keputihan tidak normal bisa disebabkan infeksi, hormon, iritasi, diabetes, atau infeksi menular seksual.

Vagina harus dicuci bagian dalam agar bersih.

Vagina memiliki mekanisme membersihkan diri. Douching justru dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik.

Keputihan berbau amis bisa diatasi dengan parfum vagina.

Parfum dapat memperparah iritasi dan tidak mengobati penyebab.

Semua keputihan bisa diobati dengan antibiotik.

Antibiotik hanya untuk infeksi tertentu dan harus sesuai arahan dokter.

Kalau tidak gatal, berarti pasti aman.

Beberapa infeksi menular seksual bisa tidak bergejala jelas.

Keputihan saat hamil pasti normal.

Bisa normal, tetapi bila berbau, gatal, nyeri, berdarah, atau cairan banyak seperti ketuban, harus diperiksa.

Keputihan setelah menopause adalah hal biasa.

Keputihan atau perdarahan setelah menopause perlu dievaluasi, terutama bila menetap atau berbau.

 

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Keputihan

1. Apakah keputihan itu normal?

Ya, keputihan dapat normal bila berwarna bening atau putih, tidak berbau menyengat, dan tidak disertai gatal, nyeri, panas, atau perdarahan. Jumlahnya bisa berubah sesuai siklus haid, masa subur, kehamilan, atau penggunaan kontrasepsi hormonal.

2. Keputihan seperti apa yang tidak normal?

Keputihan tidak normal biasanya berbau amis atau busuk, berwarna kuning/hijau/abu-abu, berbusa, menggumpal, disertai gatal, nyeri, panas saat buang air kecil, nyeri panggul, nyeri saat berhubungan, atau perdarahan di luar haid.

3. Apakah keputihan berarti infeksi menular seksual?

Tidak selalu. Keputihan dapat normal atau disebabkan jamur, bacterial vaginosis, iritasi, perubahan hormon, atau infeksi menular seksual. Namun, bila ada riwayat hubungan seksual berisiko, pasangan bergejala, nyeri panggul, atau perdarahan, pemeriksaan infeksi menular seksual perlu dipertimbangkan.

4. Apakah keputihan bisa sembuh sendiri?

Keputihan normal tidak perlu diobati. Sebagian keluhan ringan akibat iritasi dapat membaik setelah pemicu dihentikan. Namun, keputihan akibat infeksi biasanya memerlukan diagnosis dan pengobatan sesuai penyebab.

5. Apakah boleh membeli obat keputihan sendiri di apotek?

Sebaiknya tidak, terutama bila keluhan baru pertama kali, berulang, sedang hamil, disertai nyeri panggul, demam, perdarahan, bau menyengat, atau riwayat hubungan seksual berisiko. Salah obat dapat membuat keluhan tidak sembuh dan menunda diagnosis.

6. Apakah sabun kewanitaan aman digunakan setiap hari?

Produk pembersih berpewangi atau terlalu keras dapat mengganggu keseimbangan pH dan bakteri baik vagina. Untuk kebersihan harian, umumnya cukup membersihkan area luar dengan air bersih dan menjaga area tetap kering.

7. Mengapa keputihan sering kambuh?

Keputihan berulang dapat berkaitan dengan diagnosis yang belum tepat, pengobatan tidak tuntas, infeksi pasangan, kebiasaan douching, diabetes tidak terkontrol, penggunaan antibiotik tertentu, atau iritasi berulang. Pemeriksaan diperlukan untuk mencari penyebabnya.

8. Apakah keputihan saat hamil berbahaya?

Keputihan saat hamil dapat normal bila tidak berbau dan tidak disertai keluhan. Namun, ibu hamil harus periksa bila keputihan berbau, gatal, nyeri, berdarah, disertai demam, nyeri perut, atau cairan keluar banyak seperti air ketuban.

9. Apakah pasangan perlu diobati juga?

Tergantung penyebab. Pada infeksi menular seksual seperti trikomoniasis, klamidia, atau gonore, pasangan seksual biasanya perlu diperiksa dan diobati. Pada infeksi jamur atau bacterial vaginosis, kebutuhan pengobatan pasangan bergantung pada kondisi dan penilaian dokter.

10. Apakah keputihan bisa menyebabkan sulit hamil?

Keputihan normal tidak menyebabkan sulit hamil. Namun, infeksi menular seksual yang tidak diobati dapat naik ke organ reproduksi bagian atas dan berisiko menyebabkan penyakit radang panggul, yang dapat memengaruhi kesuburan.


Referensi Medis Tepercaya

  1. NHS. Vaginal discharge
  2. NHS Inform. Vaginal discharge
  3. MedlinePlus. Vaginal itching and discharge – adult and adolescent
  4. MedlinePlus. Vaginitis / Vulvovaginitis
  5. Mayo Clinic. Vaginal discharge: When to see a doctor
  6. Mayo Clinic. Vaginal discharge: Causes
  7. Mayo Clinic Press. Vaginal discharge: when to watch, when to work up.
  8. FamilyDoctor. Vaginal Discharge
  9. Sim M, et al. Vaginal discharge: evaluation and management in primary care

Ditulis oleh:
Tim Redaksi WebDokter

Ditinjau oleh:
dr. Willi Fragcana Putra

Terakhir diperbarui:
30 April 2026

Catatan Medis:
Artikel ini bertujuan untuk edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Pemeriksaan, diagnosis, dan pengobatan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Jika Anda mengalami gejala berat, kondisi memburuk, atau tanda bahaya seperti sesak napas, penurunan kesadaran, nyeri dada berat, perdarahan, kejang, lemas berat, atau tanda kegawatan lain, segera cari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.

 

About WebDokter ID

Web Dokter ID email: webdokterid@gmail.com

View all posts by WebDokter ID →